|
|
comments (0)
|
Sejak tahun 2005 proyek monorel yg digarap oleh PT. Monorel Jakarta senilai $650 million terhenti krn tidak ada investor. Hingga kini 2011 tidak ada kelajutannya. Propagraphic Movement (Arief Rachman, Arief Atto, Mg Pringgotono, Robo Wobo, & Winanda Suciyadi) mencoba menghilangkan pilar monorel di depan Senayan Square dengan mural ilusi


|
|
comments (0)
|
17 agustus 2011 tidak hanya hari kemerdekaan bangsa ini tapi juga hari dimana puluhan street artist jabodetabek berkumpul berkarya di terowongan dukuh atas. kami memerdekakan diri dengan merebut Terowongan Dukuh Atas sebagai Galeri kami.

|
|
comments (0)
|
Ditulis dan foto oleh Bujangan urban
repost dari : http://garduhouse.blogspot.com/2011/06/real-street-artist.html
THE REAL STREET ARTIST
Setelah sekian lama perjalanan kuda besi saya melintasi jalur TB SIMATUPANG belasan graffiti atau bahkan puluhan sering saya liat dan saya nikmati tapi tak ada mencuri mata dan membuat saya penasaran, Berbeda dari kebanyakan graffiti yang ada di jalan tersebut di sebuah jembatan di depan antam ada beberapa karya yang bisa dibilang sangat Indonesia banget. Setelah sekian lama penasaran saya terjawab dan akhirnya titik terang menemukan saya dengan sosok pembuat graffiti atau karya tersebut dan banyak hal yang saya tidak sangka dalam pertemuan saya dengan nya. Ketika malam hari saya sedang me moto graffiti tersebut dari kegelaan bawah jembatan terdengar suara teriakan yang aga keras NGAPAIN MASSSS moto pa jawab saya, perasan dagdigduk bercampur aduk lalu keluar sosok pria setengah baya keluar dari kegelapan, lalu dia berkata ngapain mas? Moto pak, jawab saya. Dan saya menanyakan kepadanya ini yg buat siapa pak? Tanpa di sangka ternyata sosok pria setengah baya itu menjawab saya yg membuat mas ( anjing ketiban duren nih malem ini gw)
Akhirnya saya coba bertanya tanya dengan dia, oia namanya PAK NUR PEA , dia telah tinggal di bawah jembatan itu kurang lebih selama 6 tahun di situ, seorang penganut kebatinan yang sudah melupakan masa-masa kehidupan pahitnya di masa lalu, dan meencoba untuk memperbaiki kesalahanya.Di hari ini saya banyak belajar dari beliau, dari kekurangannya di masih menyisikan uangnya untuk membuat karya di jalan, bahkan untuk makan pun saya tau seorang pemulung masih kembang kempes ,tapi dia ikhlas menyisikan untuk berkarya tanpa pamrih. Pria kelahiran tahun 1955 secara otodidak mengasah potensi seni dalam dirinya, mulai menggambar di atas becak sampai belakang truk, Dan dilihat dari karyanya yang saya temui di jl TB Simatupang sangat melebih dari pendidikan bangku sekolah yg di tempuhnya pada waktu itu hanya sampe kelas 4 SD. Banyak dari teman temanya sesama pemulung bertanya tak tau apa tujuan dari Pak Nur,Pak nur dengan santai menjawab ini bukan buat lo tapi buat orang orang gede yag di sono noh. dan dari karya karyanya pula sangat berbicara permasahan social politik di negri ini bebebekalkan radio butut dia dapat merasakan permasahan yg di hadapi negri ini dan menuangkan kegelisahan kegelisahnya dalam karya karyanya yang membuat kita berpikir jauh kedepan, aktifitas yang di lakukan pak Nur dalam berkarya di ruang publik tidak semulus sutra yang di pakai para permaysuri, terkadang pihak pihak seperti POL PP pun menghampiri kegiatan yang di lakukan tapi pak Nur tak pernah lari ataupun bersembunyi dia berani bertangggung jawab atas apa yang di lakukanya,Sosok bersahaja itu masih bertahan dengan keyakinanya intelektual itu jangan hanya sampai di dalam buah pikir kita melainkan harus berada di dalam hati.
Bujangan Urban

|
|
comments (0)
|
Ditulis dan foto oleh Bujangan Urban
repost dari: http://garduhouse.blogspot.com/2011/06/real-street-artist.html
THE REAL STREET ARTIST
Setelah sekian lama perjalanan kuda besi saya melintasi jalur TB SIMATUPANG belasan graffiti atau bahkan puluhan sering saya liat dan saya nikmati tapi tak ada mencuri mata dan membuat saya penasaran, Berbeda dari kebanyakan graffiti yang ada di jalan tersebut di sebuah jembatan di depan antam ada beberapa karya yang bisa dibilang sangat Indonesia banget. Setelah sekian lama penasaran saya terjawab dan akhirnya titik terang menemukan saya dengan sosok pembuat graffiti atau karya tersebut dan banyak hal yang saya tidak sangka dalam pertemuan saya dengan nya. Ketika malam hari saya sedang me moto graffiti tersebut dari kegelaan bawah jembatan terdengar suara teriakan yang aga keras NGAPAIN MASSSS moto pa jawab saya, perasan dagdigduk bercampur aduk lalu keluar sosok pria setengah baya keluar dari kegelapan, lalu dia berkata ngapain mas? Moto pak, jawab saya. Dan saya menanyakan kepadanya ini yg buat siapa pak? Tanpa di sangka ternyata sosok pria setengah baya itu menjawab saya yg membuat mas ( anjing ketiban duren nih malem ini gw)



Akhirnya saya coba bertanya tanya dengan dia, oia namanya PAK NUR PEA , dia telah tinggal di bawah jembatan itu kurang lebih selama 6 tahun di situ, seorang penganut kebatinan yang sudah melupakan masa-masa kehidupan pahitnya di masa lalu, dan meencoba untuk memperbaiki kesalahanya.Di hari ini saya banyak belajar dari beliau, dari kekurangannya di masih menyisikan uangnya untuk membuat karya di jalan, bahkan untuk makan pun saya tau seorang pemulung masih kembang kempes ,tapi dia ikhlas menyisikan untuk berkarya tanpa pamrih. Pria kelahiran tahun 1955 secara otodidak mengasah potensi seni dalam dirinya, mulai menggambar di atas becak sampai belakang truk, Dan dilihat dari karyanya yang saya temui di jl TB Simatupang sangat melebih dari pendidikan bangku sekolah yg di tempuhnya pada waktu itu hanya sampe kelas 4 SD. Banyak dari teman temanya sesama pemulung bertanya tak tau apa tujuan dari Pak Nur,Pak nur dengan santai menjawab ini bukan buat lo tapi buat orang orang gede yag di sono noh. dan dari karya karyanya pula sangat berbicara permasahan social politik di negri ini bebebekalkan radio butut dia dapat merasakan permasahan yg di hadapi negri ini dan menuangkan kegelisahan kegelisahnya dalam karya karyanya yang membuat kita berpikir jauh kedepan, aktifitas yang di lakukan pak Nur dalam berkarya di ruang publik tidak semulus sutra yang di pakai para permaysuri, terkadang pihak pihak seperti POL PP pun menghampiri kegiatan yang di lakukan tapi pak Nur tak pernah lari ataupun bersembunyi dia berani bertangggung jawab atas apa yang di lakukanya,Sosok bersahaja itu masih bertahan dengan keyakinanya intelektual itu jangan hanya sampai di dalam buah pikir kita melainkan harus berada di dalam hati.
Bujangan Urban
|
|
comments (2)
|
Merepost dari fb Anggun Priambodo:
Jalan rusak di Cinere
pagi tadi jam 6.30 hari selasa 10 mei 2011, saya jalan-jalan naik ojek utk liat kondi...si terbaru jalan cinere
karena biasanya saya ga pernah lewat jalan ini di jam sepagi ini kecuali mendesak. selamat menikmati pemandangan yang bagi warga cinere adalah pemandangan yang lumrah mereka jumpai setiap mereka menggunakan jalan cinere raya yang jadi satu-satunya jalan utama mereka untuk keluar dan masuk ke cinere. sakit jiwa saya sandangkan untuk walikota depok dan pemkot-nya, karena tidak pernah berhasil membuat warga cinere dari jaman dulu hingga sekarang menikmati jalan cinere secara mulus lebih dari 3 bulan saja....lebay tapi perlu. ![]()









Foto: Anggun Priambodo
|
|
comments (1)
|
20 April 2011 dini hari, Pembuatan Jalur sepeda dilakukan dibeberapa titik antara matraman, tambak, pasar rumput, hingga terowongan dukuh atas. Dikerjakan oleh MG Pringgotono dan Dina Lestari. projek ini jadi langkah pertama untuk memancing inisiatif serupa bagi para pengguna sepeda di dalam kota untuk membuat jalur sepeda di daerahnya masing-masing.



|
|
comments (0)
|
<iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/0PASOytqYz8" mce_src="http://www.youtube.com/embed/0PASOytqYz8" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
|
|
comments (0)
|

DI BAWAH MACET, DI ATAS PUN BANJIR. "Ada-ada 'aja Jakarta." tukas seorang pejalan kaki. Pada Senin (25/10) lalu, ketika hujan deras satu hari penuh melumpuhkan Jakarta, banjir bukan hanya membuat jalanan macet total. Di sebuah jembatan penyeberangan jalan di daerah utama Semanggi, Jakarta Selatan, genangan yang merendam telapak kaki pun melanda. Pilihannya adalah melepas alas kaki dan mengangkat celana atau rok Anda atau jika Anda cukup petualang, meniti pagar jembatan bak sang laba-laba merah Spiderman.
Nugroho Budianggoro | Oktober 2010 sumber: http://www.karbonjournal.org/photo/201011